« Sekilas Ujian Nasional »

Hardiknas yang jatuh kemarin pada tanggal 2 Mei 2008 sungguh membuat saya miris. Bagaimana tidak, hari kelahiran tokoh besar Ki Hajar Dewantara diisi oleh puluhan demonstrasi yang mewarnai hampir seluruh pelosok negeri. Berita-berita dari segala media nasional seolah serempak memberitakan tentang aksi demo tersebut. Adapun beberapa tuntutan dalam demo tersebut yang sangat populer seperti tuntutan atas biaya pendidikan yang murah, kenaikan gaji guru, pengangkatan status guru honorer menjadi pegawai negeri sipil, serta masih ada beberapa tentang UU Badan Hukum Pendidikan.

 

Yup, memang kalau melihat berbagai aksi tersebut sebenarnya kebanyakan demonstrasi dipicu oleh beberapa regulasi/kebijakan pemerintah tentang pendidikan. Banyak pihak yang merasa bahwa pemerintah kurang peduli (tidak peduli?) tentang pendidikan di Indonesia. Tetapi, tentunya kita tidak boleh menghakimi pemerintah seperti itu. Pemerintah dalam kapasitasnya memang memiliki hak dalam menentukan kebijakan, terutama dalam hal pendidikan dan pemerintah juga diharapkan dapat mengambil keputusan yang tepat sejalan dengan fenomena dan dinamika yang terjadi di masyarakat. Sekarang, apakah keputusan pemerintah selama ini bersifat aspiratif dan nyaman di hati masyarakat?

Kalo masalah keputusan selama ini aspiratif atau tidak, saya tidak bisa menentukan karena saya tidak tahu apa yang ada di benak 200 juta rakyat Indonesia. Tapi jujur saja secara pribadi banyak keputusan pemerintah yang tidak nyaman di hati saya.

 

Salah satu contoh kebijakan pemerintah yang bikin saya gemes yang menjadi polemik hebat adalah tentang Ujian Nasional SMA 2007/2008 yang mengujikan 6 mata pelajaran dengan standar nilai masing-masing minimal 4,25 dan rerata 6 mata pelajaran minimal 5,25. Pemerintah berdalih keputusan tersebut dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas lulusan siswa/i SMA 2007/2008.

 

Menurut saya keputusan tersebut (UN SMA 2007/2008) kurang tepat. Karena apa?

Karena kebijakan tersebut dibuat saat siswa/i SMA telah duduk di kelas 3. Dengan kata lain selama mereka berada di kelas 1 dan 2, mereka hanya disiapkan untuk menghadapi 3 mata pelajaran yang selama ini diujikan (Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris). Selain itu, keputusan tentang UN 2008 sangat tidak seimbang dengan kerja keras siswa/i SMA selama ini karena nilai UN 2008 menjadi  syarat kelulusan yang notabene hanya mementingkan aspek kognitif bukan dari afektif dan psikomotorik. Padahal di kurikulum sekarang sangat ditonjolkan sisi dari aspek afektif dan aspek psikomotorik. Tapi prakteknya?

Bukankah setiap individu punya kemampuan yang berbeda-beda? Dan aspek kognitif tersebut hanya diperhitungkan selama TIGA hari ujian.

 

Memang ada pelajar yang punya prestasi di bidang mata pelajaran sekolah tapi juga ada yang punya prestasi di luar sekolah seperti musik, olahraga dsb. Mungkin bagi yang berprestasi di sekolah, UN tidak menjadi masalah, tapi bagi yang berprestasi di luar sekolah. Coba anda lihat Doni Tata yang dengan prestasi balapnya sudah mengharumkan nama bangsa Indonesia yang saat ini tengah krisis prestasi. Pastilah Doni Tata adalah orang yang sibuk dengan jadwal latihan dan segala macam hal di dunia balap motor, padahal Doni Tata adalah seorang pelajar SMA di Sleman DIY. Menurut anda bukankah hal yang wajar kalau dia (Doni Tata) menjadi jarang belajar dan akhirnya tidak menguasai materi pelajaran SMA karena sibuk mengaharumkan nama bangsa. Anda dan saya pasti akan sangat tidak setuju kalau karena prestasinya di ajang dunia yang membuat waktunya belajar berkurang, dia harus TIDAK lulus SMA kelak. Yah, semoga aja dia bisa mengikuti materi pelajaran dengan baik.

 

Ok, kembali lagi ke topik. Beberapa hari sebelum UN SMA 2008, saya mencoba mencari kata kunci yang paling banyak diminati di beberapa search engine di internet. Dan saya cukup terhenyak, ternyata yang paling banyak dicari adalah hal-hal yang berhubungan ‘bocoran un uan sma’. Wow, fenomena apakah ini?

Kemudian saya juga sempat ngobrol-ngobrol di angkringan dekat rumah dengan seorang pelajar kelas 3 di salah satu SMA Negeri di Yogyakarta. Dia bercerita bahwa sebelum UN dia bersama teman-temannya mengadakan suatu ‘rapat’, rapat tersebut antara lain membahas tentang bagaimana cara untuk bertukar jawaban (mencontek) waktu ujian. Lain hari saya sempat ngobrol juga dengan adik teman saya yang masih kelas 3 SMA, dia menuturkan bahwa dirinya dan teman-temannya satu sekolah maupun lain sekolah telah membayar ± 1-2 juta per orang kepada seorang ‘server’ di Yogyakarta. ‘Server’ itu tadi yang akan mengirimkan jawaban ujian via SMS beberapa menit sebelum waktu ujian selesai, karena si ‘server’ itu tadi memiliki kenalan ‘orang dalam’ yang memiliki akses untuk soal ujian. Sehingga saat ujian dimulai dan soal ujian dibagikan ‘orang dalam’ tersebut akan memberikan (lebih tepatnya menyelundupkan) soal ujian tersebut pada tim sukses si ‘server’ itu tadi dan tim tersebut memiliki beberapa tentor-tentor yang bertugas menjawab soal-soal ujian tersebut. Luar Biasa!

 

Saya mencoba berpikir, apakah ini semua terjadi karena sekolah 3 tahun hanya ditentukan oleh 3 hari ujian. Sehingga banyak siswa/i bukannya meningkatkan kualitas belajar tetapi justru meningkatkan kualitas curangnya dengan semboyan ‘sing penting lulus’. Mungkin banyak yang bilang bahwa kecurangan tersebut hanya dilakukan oleh oknum, tetapi yang saya lihat oknum tersebut jumlahnya besar sekali. Oke lah biasanya kan yang namanya oknum itu 1 dari 10, tapi ini seolah-olah 6 dari 10 (ini ga asal ngomong lho, tapi saya lihat sendiri). Lantas apakah masih bisa disebut oknum? Saya khawatir pelajar seperti inilah yang nanti akan menjadi sampah masyarakat dan menjadi penyumbang terbesar dalam prestasi kejahatan di Indonesia.

Bahkan beberapa siswa yang biasanya termasuk rajin dan pandai di kelas pun tidak luput dari kecurangan ini, karena mereka trauma atas pengalaman kakak-kakak kelasnya yang pandai dan rajin malah tidak lulus tapi yang bodoh dan pemalas justru malah lulus.

 

Beberapa hari lalu di berita nasional ada kabar bahwa 17 guru tertangkap karena membetulkan jawaban siswanya dan kalau tidak salah juga di Makassar ada Kepala Sekolah yang ditangkap karena membocorkan soal. Mengapa seorang guru yang seharusnya digugu lan ditiru justru berbuat demikian?

Ada seorang kenalan saya yang kebetulan guru SMK Negeri di Yogyakarta. Yang saya mintai pendapat tentang pelanggaran yang dilakukan oleh guru dalam UN.

Dia berkata:

“Yang punya hak untuk mengevaluasi siswa adalah gurunya. Jadi guru lah sebenarnya yang punya hak untuk meluluskan siswanya, bukan pemerintah. Dalam hal ini pemerintah telah merampas hak prerogatif guru. Sekarang kalau hak anda dirampas orang lain, bagaimana reaksi anda? Lha wong menteri pendidikannya aja mantan menteri keuangan, mana dia tahu tentang pendidikan”

 

Seolah-olah pemerintah menutup mata terhadap sikap kontra mengenai kebijakan Ujian Nasional ini. Ada yang menganggap pemerintah terlalu memaksa tanpa ‘bercermin’ dahulu. Karena seperti yang kita tahu banyak guru yang kesejahteraannya belum baik, banyak sekolah yang sarana/prasarana nya juga belum baik, bahkan ada yang hampir roboh, tetapi pemerintah tetap memaksakan program kerjanya. Bahkan tahun lalu ketidaklulusan yang menembus angka 100.000 siswa pun tidak menjadi pertimbangan bagi pemerintah malah justru melipatgandakan dan mempersulit kriteria kelulusannya. Tahun lalu pun juga diperparah dengan seorang siswa yang bunuh diri dan juga ada 4 siswa yang mencoba bunuh diri karena tidak lulus ujian.

 

Mungkin banyak orang yang setuju dengan kebijakan pemerintah dengan standar nilai ujian yang tinggi, tapi saya yakin kalau orang tersebut berada di posisi yang sama dengan siswa/i kelas 3 yang sekarang saya yakin orang itu pasti yang paling vokal menentang kebijakan tersebut,he4….

 

Jujur saya agak sangsi tahun ini jumlah prosentase jumlah kelulusan akan meningkat. Mengingat tahun lalu, yang bisa dibilang kriteria kelulusan lebih mudah dan yang diujikan juga cuma tiga, tapi yang tidak lulus banyak sekali.

Jadi ingat kata-kata teman saya, bahwa tahun ini kalau yang murni jujur dalam mengerjakan ujian kemarin bisa dihitung dengan jari. Benarkah demikian?

Iklan
Published in: on Mei 4, 2008 at 3:43 pm  Comments (8)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://dhamastya.wordpress.com/2008/05/04/sekilas-ujian-nasional/trackback/

RSS feed for comments on this post.

8 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wah deg2an niy Mz mnjelang pngumuman
    Doain qta2 lulus y!

  2. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://pendidikan.infogue.com/_sekilas_ujian_nasional_

  3. juancooooookkkkkkk

  4. kuontolllllllllllllllllll

  5. onani jaloh timbang pusin2

  6. langsung mlae

  7. I highly enjoyed reading this article, keep on making such interesting posts!

  8. Penetapan UN sebagai standar kelulusan dengan alasan untuk menyama ratakan standar pendidikan, belum siap untuk diterapkan di Indonesia, dikarenakan fasilitas pendidikan belum dapat dirasakan secara merata oleh seluruh anak didik,selain itu alasan ekonomi juga menjadi masalah yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

    Coba lihat kasus ini:
    Anak didik dengan kemampuan ekonomi terbatas yang sehari-harinya tidak dapat belajar secara maksimal dikarenakan tidak mampu sekolah di sekolah favorit, bahkan mungkin mereka tidak mempunyai waktu yang cukup untuk belajar dikarenakan harus membantu orang tuanya mencari nafkah. Bayangkan jika mereka disuruh bersaing dalam sebuah standar Ujian Negara dengan anak didik dari keluarga tingkat ekonomi atas yang dapat sekolah di tempat favorit, punya waktu belajar yang cukup, bahkan mendapat pendidikan non formal lainnya.

    Melihat contoh kasus di atas, mungkin seharusnya kita bertanya, masuk akalkah itu? Apakah Standar Kelulusan hanya didasarkan beberapa bidang studi UN semata? Lalu bagaimana dengan bidang studi lainnya? Atau mungkin ada tujuan lain dari sekedar menyama ratakan standar pendidikan di Indonesia melalui UN. Beberapa orang bahkan menyebutkan ini cuma “proyek” lain dari pemerintah di dunia pendidikan, karena sudah menjadi rahasia umum praktek-praktek kecurangan masih berjalan dengan indahnya dalam praktek penyelenggaraan UN.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: