« Sudut Pandang Lain Bahasa Indonesia »

Anda tau Cinta Laura? Ato mungkin Cinca Lawra? Bagi yang ga tau, saya cuma mau bilang kacian deh lu! Hehehehe….

Yap, Cinta Laura adalah seorang artis sinetron blasteran yang lagi naik daun, salah satu yang membuat dia terkenal adalah aksen kebule-buleannya yang keliatan banget waktu diwawancarai di infotainment, bahkan sama salah satu provider jaringan seluler terkenal yang ada di Indonesia menyediakan jasa nada sambung telepon genggam dengan suara dan logat khas dari Cinta Laura.

 

Nah waktu saya lagi maen ke rumah cewe saya, kebetulan cewe saya belum mandi dan alhasil saya nunggu di ruang tamu sambil ditemenin ibunya, yang ampun dah…..crewet bin ga bisa diem banget!

Kebetulan tuh ruang tamu langsung terusan sama ruang keluarga, kayak tusuk sate gitu. Nah pas lagi ngobrol² ama calon mertua, tiba² di TV nongol iklannya Cinta Laura yang lagi nawarin nada sambung gitu. Trus camer tiba² komentar gini “Wah tante benci banget sama Cinta Laura, gaya ngomongnya kayak di buat² padahal waktu maen di sinetron ‘Cinderella’ dia ngomongnya fasih banget pake bahasa Indonesia”. Trus saya menimpali omongan camer (calon mertua) “Ya, mungkin waktu di sinetron khan dia harus ngapalin skrip tante jadi keliatan mafhum banget, klo logatnya sih mungkin kembali lagi kalau dia udah ngga syuting”. Trus camer bales lagi “Uhmm, paling cuma cari sensasi aja, kayak aris kebanyakan”. “Wah, kalo itu aku ga tau tante!” balasku.

Trus camer komentar macem², yah sebagai calon menantu yang baek, otomatis saya cuma mantuk² aja (apes…)! Tapi ada komentar camer yang bener² meresap dan mengganggu pikiran saya, yaitu tentang anak muda jaman sekarang yang doyan ngomong ato berkomunikasi pake bahasa Indonesia yang buruk alias tidak baek dan benar. Katanya kalo ngomong suka ditambah² pake bahasa Inggris, kadang juga terpengaruh sama bahasa MTV, ato malah kadang logatnya dibuat² kayak orang sunda pake elu dan gue biar keliatan gaul, padahal tuh orang ga ada hubungan ato pernah tinggal di daerah yang ber-sunda-ria, malah yang lebih ekstrim lagi kadang² biar keliatan keren mengumpat/misuh aja pake bahasa Inggris slang ato idiom²nya seperti f*ck, moth*r f*cker, f*ck off, f*ckin’ *sshole, bast*rd, d*ckhead, son of a b*tch, b*atch, holy sh*t, ada juga ungkapan seperti I just wanna get laid, don’t piss me off! (yang memang sering saya dengar kalo pas lagi cari gratis hotspot-an di café yang kebetulan banyak orang² yang berwajah Indonesia yang berpenampilan ala rapper dari negeri Paman Sam yang nongkrong di sana). Katanya camer lagi percuma dapet pelajaran bahasa Indonesia di sekolah, kalo dalam prakteknya bahasa Indonesia banyak dibumbui bahasa laen trus walhasil merusak bahasa asli Indonesia.

 

Yang jadi pikiran saya, apakah emang bahasa Indonesia adalah bahasa asli kita?

Kalo saya melihat dan berusaha mempelajari bahasa Indonesia dengan sebagaimana mestinya, saya menarik kesimpulan (dari artikel yang pernah saya baca, tapi lupa judulnya soalnya saya dapet fotokopiannya dari sodara waktu saya masih SMP, hue….) bahwa bahasa Indonesia merupakan 90% diantaranya adalah bahasa asing. Jangankan bahasa Indonesia, bahasa di Asia dari Arab sampe Jepang aja banyak yang disusupi bahasa asing seperti bahasa Inggris.

 

Contohnya, bahasa Arab kayak kafitirya, buftik, aiskrim, sandawits, baib, bisklit, kik, mutusikl, sukar, bansiun. Sebenarnya dari bahasa Inggris kayak cafetaria, beefsteak, ice cream, sandwich, pipe, bicycle, cake, motorcycle, sugar, pension.

Kalo contoh bahasa Jepang adalah manejasan, furutsu jusu, sandoitchi, aisukurimu, chizu, keki, bisuketto, hotto doggu, konsatu haru, shopingu senta. Juga sebenarnya dari bahasa Inggris kayak manager, fruit juice, sandwich, ice cream, cheese, cake, biscuit, hot dog, concert hall, shopping centre.

Bahasa Indonesia pun juga ga kalah serunya menyerap bahasa Inggris loh! Kayak terup, dokar, cikar, peri, musti, peluit, sama, hore, justru. Yang berasal dari bahasa Inggris troop, dog car, cheek car, fairy, must, flute, same, hurrah, just true. Hehehehe…..

 

Contoh lagi ya, Indonesia dan Malaysia yang sering disebut bahasanya dari akar bahasa Melayu pun juga kena cipratan bahasa asing, kayak:

Bahasa Malaysia (BM) beg dari bahasa Inggris bag.

Bahasa Indonesia (BI) tas dari bahasa Belanda tas.

BM kes dari bahasa Inggris case.

BI kasus dari bahasa Latin casus.

BM tayar dari bahasa Inggris tyre.

BI ban dari bahasa Belanda band.

BM besen dari bahasa Inggris basin.

BI ban dari bahasa Belanda  band.

BM basikal dari bahasa Inggris bicycle.

BI sepedadari bahasa Perancis velocipe.

 

Adalagi nih, kalo kita mau pergi ke acara yang sifatnya resmi, pasti kan kita pilih pakaian yang formal tho? Nah model dan unsur pembentuk pakaian formal untuk pria kan biasanya terdiri dari (dari bawah ke atas) sepatu, kaus kaki, celana atau pantalon, singlet, baju atau kemeja atau hem, dasi, jas, kadang dengan aksesoris arloji, ato kadang kalo kebetulan muslim biasanya pake kopiah. Saya juga baru tau kalo asal namanya juga dari bahasa asing, Spanyol: zapato, Belanda: kous, Sansekerta: celanaka, Perancis: pantalon, Inggris: singlet, Persia: bazu, Belanda: hemd, Belanda: dasje, Belanda: jas, Perancis: horologe, Arab: kuffiyatun.

Trus untuk wanita ya sama aja asal muasal namanya dari bahasa asing, klo wanita kan (dari bawah ke atas) kalo ga pake sepatu ya biasanya pake selop, rok, blus, bra atau BH, blesser, kalo kebetulan muslim ya biasanya pake jilbab. Itu berasal dari Belanda: slof, Belanda: rok, Perancis: blouse, Belanda: BH (buste houder artinya “pemegang payudara”, tapi kadang ada salah kaprah juga dari banyak orang seperti BH itu kependekan dari bahasa Inggris seperti buste holder, breast holder, malah ada temen lagi yang bilang boops holder, asli…..saya ngakak! lol), Inggris: blazer, Arab: jilbab.

Yang lebih asik lagi buat saya adalah dari teks proklamasi. Ada yang inget kata²nya? Itu juga dari bahasa asing loh! Seperti Belanda (proklamasi=proclamatie, nama=naam), Sansekerta (merdeka=maharddhika, bangsa=vamsa, cara, saksama, Sukarno), Campa (kami=gamiy), Jawa (nyata=nyoto), Sunda (kuasa=kawasa) Portugis (atas=antes), Itali (tempo=tempo), Cina (singkat), Arab (hal, Hatta), Jerman (dan), Jepang (’05, kalender Showa), Latin (Agustus, kalender Masehi), Yunani (nesia=nesos).

Lha waktu itu saya juga baru tau kalo nama “Indonesia” itu sendiri diperkenalkan sama orang Inggris yang bernama JR Logan tahun 1848 lewat tulisannya ”Customs common to the hill tribes bordering on Assam and those of the Indian Archipelago”. Trus dipopulerkan lagi sama orang Jerman yang bernama Adolf Bastian tahun 1884 lewat tulisannya “Indonesia oder die Insel des Malayschen Archipels”.

 

Ini yang lucu juga ada saudara²! Jadi salah persepsi gitu!

 

§         Tuhan. Kata ini pertama dijumpai dari terjemahan Alkitab (Bible) pada Perjanjian Baru,  yang di translasikan oleh Melchior Leijdecker ketika menjadi pendeta di Tugu (kini Jakarta Utara) tahun 1678-1701. Asal kata ini sih dari ‘tuan’, namun supaya terdengar lebih insani dan ilahi lalu ditambah huruf ‘h’ karena dalam Perjanjian Baru bahasa Belanda tertulis ‘heere’ yang artinya ‘tuan’. Sekedar informasi, pada Perjanjian Baru (New Testament) kata ‘Tuhan’ (huruf pertama kapital lalu belakangnya huruf kecil) menunjuk pada sosok Yesus ( † ), sedangkan pada Perjanjian Lama (Old Testament) kata ‘TUHAN’ (semua huruf kapital) menunjuk pada Yahwe.

 

§         Kepala. Asalnya dari kata dalam teknik arsitektur Itali cupola, yang artinya bagian paling tinggi yang terletak di atas atap bangunan sebagai tambahan atau hiasan bangunan.

 

§         Mariam. Nah, ini mulai yang lucu, jadi waktu Portugis datang ke Nusantara, trus menembakkan kanon bermesiu yang biasanya ada sisi kanan dan kiri kapal² jaman dulu itu loh kayak di pilem² bajak laut. Ada yang melihat si Portugis waktu menembak sambil membentuk tanda salib (ciri khas orang Katholik) sambil juga menyebut nama Bunda Maria Ibunda Yesus ato Maryam Ibunda Isa-Almasih, jadilah nama Mariam ato kadang diucapkan Meriam untuk menyebut kanon tersebut.

 

§         Cinta. Asalnya dari bahasa Spanyol yang artinya ‘tali pita’.Tapi di Indonesia bagian timur, kalo orang tunangan  harus mengucapkan kata² yang berbau kasih sayang di bawah ikatan tali cinta tersebut. Akhirnya kata ’cinta’ berubah menjadi kata yang bermakna sayang ato padan kasih.

 

§         Roti. Ini juga juga lucu! Asalnya dari bahasa Belanda brood yang dijual di jalanan Batavia naek sepeda kayak orang jualan bakpao tapi diteriakkan sang penjual dengan akhiran ‘iii’, otomatis kedengarannya kayak ‘broootiiiii’, jadi deh kata ‘roti’.

 

§         Minggu. Dari bahasa Portugis Domingo (ya emang dibacanya dominggo) yang artinya Tuhan. Biasanya orang Nasrani ke gereja pada hari Ahad, jadilah hari Ahad berubah jadi hari Minggu.

 

§         Kodak. Seperti yang kita tahu itu nama merk kamera dan negatif film. Akhirnya kegiatan potret-memotret dinamakan ‘kodak’, nah entah dari mana tapi lucu kok, sang fotografer disebut ‘Mat Kodak’. Yang saya tahu kata ‘Mat’ emang dari Jawa tapi ga tau tepatnya di mana.

 

§         Gedang. Nah ini yang paling lucu! Emang ini bahasa Jawa untuk buah pisang dalam bahasa Indonesia. Jadi suatu saat ada peleton tentara Belanda yang benar² kelaparan terus menemukan kebun pisang, saking senangnya trus ngomong God dank! yang artinya terimakasih Tuhan. Wakakakakakak ^^

 

§         Odading. Jadi ini bahasa Sunda yang berasal dari perkataan seorang madame Belanda. Anaknya nangis² kepingin kue yang dijual anak kampong, karena penasaran si madame tadi memanggil si penjual tadi, lalu melihat kue tersebut yang terbuat dari adonan terigu dan gula yang digoreng. Lantas berkata pada anaknya ‘O, dat ding?’ yang artinya ‘O, barang itu?’.

 

§         Holopis Kuntul Baris. Bung Karno yang emang pidatonya akrab dengan istilah dan jargon, digali kata ‘Holopis Kuntul Baris’ untuk pidatonya. Terus sempat dibuat lagu, kalo ga salah Didi Kempot ya? Lupa saya, yang saya inget, thu lagu sering diplesetin ke yang jorok²….he4….

Lha pas rodi Anyer-Panarukan dulu jaman Deandels, pekerja khan dicambuki supaya ngga malas²an, ada seorang mandor yang kuat asal Spanyol yang datang ke Indonesia melalui Perancis yang bernama Don Lopez comte du Paris. Trus biar nambah semangat, para pekerja rodi menyebut namanya.

 

Padahal belum hilang dari ingatan saya waktu sekolah dulu thu kalo pelajaran bahasa Indonesia ato pas ulangan, pasti saya dikasih soal dan disuruh untuk membenarkan sebuah kata ato kalimat yang benar, baku, ato sesuai EYD. Malah kadang kalo saya bertanya sesuatu yang kurang saya pahami trus saya bertanya dengan mungkin bahasa yang kurang ‘baik dan benar’ pasti dicuekkin sama guru, trus nanti setelah temen saya memberi tahu kalo bahasa saya tidak ‘baik dan benar’ dan saya perbaiki, baru guru saya baru mendengar pertanyaan saya, luar biasa! Weleh….

 

Walaupun saya tahu bahasa Indonesia tak se-asli yang sering digembor² di sekolah ato oleh instansi² terkait seperti Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia. Saya selalu tetap menggunakan bahasa Indonesia seperti yang yang saya pelajari di sekolah dalam setiap kesempatan seperti setiap menulis artkel yang bersifat resmi. Sama sekali tidak tertarik untuk menambahkan kata² berbahasa Inggris untuk menciptakan tampilan yang terlihat cerdas, seperti yang terlihat di banyak makalah dan tulisan orang lain akhir² ini. Kecuali artikel saya yang sifatnya santai warung kopi, bebaslah mau pake bahasa apa aja. Hehehehe…

 

Menurut saya, boleh sih pake gincu bahasa Inggris untuk berkomunikasi ato dalam kegiatan tulis-menulis ato berkorespondensi. Khan ngga ada salahnya ada ambisi untuk terlihat berpendidikan, tapi seenggaknya tetap lestarikan bahasa Indonesia yang sodara² pelajari dulu, dan alangkah baiknya jika kita harus menyerap beberapa kata dari bahasa asing yang dikarenakan tidak adanya padanan linguistik untuk menyebut/membahasakan objek yang dibicarakan, kita harus berani menyerap kata tersebut dengan lafaz yang sesuai sifat alami lidah anak negeri. Malah kalo sodara² punya kesempatan pergi ke luar negeri, maka sebarkanlah virus berbahasa Indonesia-ria di negara tujuan tempat anda berdomisili, pasti asik sekali nih. Jujur saya sering iri melihat bahasa Latin digunakan untuk memberi nama² ilmiah pada spesies² makhluk hidup di ranah keilmuan biologi dengan tujuan men’cagar’kan bahasa Latin yang hampir punah. Mungkin saatnya bagi kita generasi muda untuk menginvasi bahasa dunia dengan bahasa Indonesia. Mungkin terdengar chauvinis tapi bukankah sodara² senang kalo bahasa Ibu Pertiwi sukses sebagai salah satu bahasa di dunia yang identik dengan sifat tertentu. Maksud saya, sebagai gambaran bahasa Perancis dikenal sebagai bahasa romantis, bahasa Latin dan Yunani dikenal bahasanya ilmu pengetahuan, bahasa Inggris malah lebih dikenal lagi sebagai bahasa di banyak bidang, trus kalo bahasa Indonesia enaknya identik dengan apa ya?

Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://dhamastya.wordpress.com/2008/05/11/sudut-pandang-lain-bahasa-indonesia/trackback/

RSS feed for comments on this post.

9 KomentarTinggalkan komentar

  1. WAlaaaah.
    Saia juga bweenci sama Cinca Lawra itu, Mas..
    Bener kata camer sampeyan..
    logatnya dibuat-buat..
    Xixixiii..
    Bikin Eneg!

  2. wah gokil banget nih, postingan yg mendalem ttg bahasa Indonesia, dan dibanding-bandingin sama bhs yg laen,

    menurut gw sih, penggunaan bahasa itu harus tau situasi dan kondisi aja, kita harus tau kapan dan dimana kita harus berbahsa Indonesia yg baik dan benar, dan kapan kita boleh bebas pake bahasa gaul. hehe..

    *maklum waktu itu pernah diceramahin sama guru bhs. Indonesia..

  3. PUANJANGEEE! XD

    wah..postingan yg mendalam dan menyentuh hati :p

    IMHO, bhs indonesia mrupakan bhs pemersatu. maklum saja, indonesia kan negara kepulauan.. dijajah byk negara pula.. jd wajar jika bhs indonesia mirip dgn bhs asing lainnya..

    nah, skg tinggal kitanya aj ney.. bgmn kita menggunakan bhs indonesia dgn baik tanpa meninggalkan akar budaya masing2 daerah..

    sekian dan terima kasih :mrgreen:

  4. […saya nunggu di ruang tamu sambil ditemenin ibunya, yang ampun dah…..crewet bin ga bisa diem banget!…]

    Moga pacarmu ga baca tulisan ini trus lapor ke ibunya kalo kamu dah ngatain seperti itu *kabuur*

  5. @ Shei : sama, aku juga males bgt liatnya, he4…
    @ ridu : iye juga si mas…tapi lucunya klo ada temen yang sok gaul trus make bahasa gado-gado bahasa inggris….trus begitu aku ajak ngomong pake bhsa inggris beneran dia malah kagak dong wkwkwkwkwk….
    @ ecchan : sori kepanjangan ya….:p
    @ annots : wah si doi malah duluan yang ngakuin klo ibunya crewet…tp crewetnya bukan yg sambil marah2 gtu…tp kaya crewetnya cewe yg suka nggosip gtu….huehuehuheuhe ^^

  6. hmmm saya rasa ga ada salahnya mencampuradukkan bahasa, asal nantinya jangan jadi orang yang memprotes orang lain soal bahasa ini… sudahlah…

  7. semakin umum aja orang pake EYD
    *Ejaan Yang Dipercampur-adukkan*

  8. waaakkksss….aku gak protes tuh ma logat cinta laura. Wong dia gede di Jerman sono. Palagi liat umurnya yang masih belia, logatnya belum ilang. Pie yah, kayak bahasa ibu…kan susah ngilanginnya.
    Aku di kantor aja banyak yg protes medok jawaku gak ilang, pie mo ngilangin. Gawan je…
    Artis² senior kayak Ari Wibowo, mantan model Nadia Hutagalung ajah logat bulenya juga masih kliatan. Terima ajah keunikan orang, itu kan kekayaan dalam sebuah kebersamaan.
    Yang penting…Bahasa Indonesia-nya jangan diilangin. Itu kan bahasa persatuan kita..Merdekaaaaaaaa!!!
    Hihi…
    Oh iya, selamat hari kebangkitan nasional

  9. wah, kalau saya malahan suka sekali dengan gaya ngomongnya Cinta Laura.
    Terbukti, sekarang menjadi trend lhoh..
    bahkan bisa menghasilkan duit.
    Persis seperti kata Dhani Ahmad,..baru umur 14 tahun tapi CInta LAura sudah bisa jadi fenomenal. Waktu umur 14 tahun, Dhani Ahmad mengaku belom “berkarya’ apa-apa..
    🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: